-->

Memasuki Usia 50 Tahun, Korupsi Akut PT Inalum Terbongkar, Kerugian Mencapai Rp113 Miliar

Sebarkan:

PT Inalum di Asahan
Di usianya yang sudah menginjak 50 tahun, PT Inalum, salah satu BUMN yang focus memproduksi aluminium berbagai jenis dikejutkan dengan tertangkapnya dua petinggi perusahaan itu. Mereka adalah Dante Sinaga selaku Senior Executive Vice President bidang Pengembangan Usaha,  dan Joko Susilo selaku Kepala Departemen Sales dan Marketing.  Keduanya ditangkap pada Rabu 17 Desember 2025 dan langsung ditahan selama 20 hari di Rutan Kelas I Medan.

Tentu saja ini sebuah citra yang buruk bagi BUMN yang operasionalnya di wilayah Sumatera Utara itu. Padahal selama ini kinerja PT Inalum dianggap cukup baik.  Pemerintah bahkan terus berupaya memperbesar perusahaan itu karena dianggap cukup potensial secara bisnis.

Tidak tahunya, korupsi besar-besaran justru terjadi di dalamnya. Penyelewengan itu diperkirakan sudah berlangsung sejak 2018 sehingga menyebabkan kerugian negara cukup besar. Perkiraan awalnya berkisar Rp113 miliar.

Dari hasil penyidikan, Tim Pidsus Kejatisu menemukan minimal dua alat bukti yang cukup kuat tentang perbuatan melawan hukum yang dilakukan ke dua tersangka. Keduanya diduga telah mengubah skema pembayaran yang sebelumnya secara cash dan SKBN (Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri) menjadi Dokumen Agen Acceptance (D/A) dengan Tenor selama 180 hari.

Akibatnya, PT. Prima Alloy Steel Universal (PASU) sebagai pembeli produk  tidak melakukan pembayaran atas aluminim alloy yang sudah dikirim oleh PT Inalum. Pembayaran itu justru dilakukan kepada kedua tersangka sehingga keduanya meraup untung sangat besar.

Dengan terbongkarnya kasus korupsi itu, citra Inalum menjadi tercoreng. Ironisnya, aib itu terbongkar di saat   perusahaan itu akan merayakan usia ke-50 tahun. Di usia itu,  PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) menegaskan bakal terus mentransformasikan bisnisnya menuju industri aluminium nasional yang lebih kuat, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Perusahana itu bertekad fokus pada percepatan hilirisasi serta penguatan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta menciptakan nilai tambah yang lebih luas bagi daerah dan masyarakat.

Sebagai bagian dari implementasi transformasi bisnis menuju industri aluminium berkelanjutan, Inalum tengah berupaya memperkuat strategi hilirisasi aluminium melalui sejumlah proyek strategis sebagai aksi korporasi. Perusahaan itu tidak hanya memperbesar bisnis di Sumatera Utara, tapi juga ekspansi ke daerah lain.

Corporate Secretary Inalum Mahyaruddin Ende mengatakan, perusahaan menjalankan tiga proyek utama, yakni pembangunan SGAR II dan Smelter II di Mempawah, Kalimantan Barat, serta pembangunan Potline IV di Kuala Tanjung, Batubara, Sumatera Utara.

Dalam kerangka tersebut, Mahyaruddin menyampaikan bahwa hilirisasi dijalankan dengan pendekatan bertanggung jawab sebagai bagian dari komitmen Inalum terhadap prinsip ESG.

“Hilirisasi aluminium menjadi strategi kunci untuk memperluas manfaat industri sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis, 18 Desember.

Pada aspek lingkungan, sambung dia, Inalum memfokuskan konservasi pada kawasan Danau Toba. Perseroan membangun pembibitan modern berkapasitas hingga 500.000 bibit pohon per tahun sebagai fondasi rehabilitasi lahan kritis secara berkelanjutan. Program rehabilitasi ditargetkan mencapai 500 hektare per tahun, terutama di kawasan tangkapan air dan wilayah penyangga sumber energi.

Dalam konteks lingkungan, Inalum menjalankan berbagai inisiatif penurunan emisi karbon yang terintegrasi dengan proses produksi, mulai dari peningkatan efisiensi energi, pemanfaatan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, hingga upgrading teknologi peleburan. Pengelolaan limbah berbasis prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) turut diterapkan untuk menekan dampak lingkungan.

Sementara pda dimensi sosial, Mahyaruddin bilang Inalum menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai fondasi keberlanjutan jangka panjang. Program perbaikan sarana dan prasarana sekolah, dukungan pendidikan, serta penguatan kompetensi tenaga pengajar khususnya di wilayah ring satu menjadi fokus utama.

Kegiatan social juga tengah diperkuatr perusahaan ini. Dalam menangani bencana ekologi yang terjadi di Sumatera, Mahyaruddin menegaskan, perseroan menyiapkan sejumlah program aksi peduli sebagai respons membantu korban bencana.

Program tersebut mencakup pemeriksaan kesehatan gratis, pasar murah di 12 titik lokasi, serta pemulihan infrastruktur di kawasan terdampak bencana. Selain itu, juga menyiapkan sebanyak 13.000 paket sembako murah.

Namun kini nampaknya perusahaan itu harus Bersiap-siap menghadapi tantangan baru, membersihkan citra yang buruk karena terungkapnya kasus korupsi di dalamnya.  Nilainya pun tidak tanggung-tanggung, mencapai Rp113 miliar.

Saat ini baru dua orang yang diduga terlibat. Tapi pengembangan kasus masih berlanjut, sehingga bukan tidak mungkin tersangka akan bertambah. Nilai Rp113 miliar itu bukanlah kecil. Sulit dipercaya kalau hanya dua petinggi saja yang menikmati. 

Dua pejabat teras Inalum yang jadi tersangka, yakni Dante Sinaga dan Joko Susilo
PT Inalum resmi berdiri pada Januari 1976  sebagai produsen aluminium yang merupakan patungan (Joint Venture) antara Pemerintah Indonesia dan konsorsium Jepang, Nippon Asahan Aluminium (NAA). 

Perusahaan ini berlokasi di Kuala Tanjung, Kabupaten Batubara (sebelum pemekaran masuk wilayah Asahan) karena memanfaatkan energi yang dihasilkan dari Sungai Asahan untuk peleburan aluminium. Proyek ini mencakup pembangunan PLTA Sigura-gura, PLTA Tangga, dan pabrik peleburan di Kuala Tanjung.

Namun Kerjasama dengan investor Jepang hanya berlaku 30 tahun. Sejak 2013, saham PT Inalum sepenuhnya menjadi milik Indonesia sehingga ia menjadi bagian dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN). 

Pada 2017, Inalum dikembangkan sebagai induk dari beberapa perusahaan lain yang membawahi  PTBA, Antam, Timah, dan Freeport Indonesia. Pada Maret 2023, fungsi holding perusahaan ini dipindahkan ke entitas baru bernama MIND ID, sementara Inalum kembali fokus pada operasional produksi aluminium sebagai anggota holding.

Inalum mencatatkan rekor produksi tertinggi sepanjang sejarahnya sebesar 274.000 ton dengan penjualan 275.000 ton. Pada September lalu, perusahaan ini telah menandatangani kesepakatan global dengan perusahaan energi Vitol di ajang World Expo 2025 Osaka serta menjajaki investasi dengan brand otomotif global seperti Honda dan Panasonic untuk pengembangan pasar aluminium Indonesia di Jepang. ***

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini