Lima Sultan Sumatera Timur menggelar
diskusi ringan di Aobi Cafe Siba City, Jalan Singgalang, Medan
pada Senin malam (16/2/2026) dengan difasilitasi oleh Syarifuddi Siba Ketua Badan Koordinasi (Badko) Pembangunan
Masyarakat Pantai Timur (PMPT). Pertemuan itu berlangsung dalam suasana yang
santai penuh kekeluargaan membahas upaya peningkatan kesejahteraan rakyat
dan mendorong peran etnis Melayu dalam pembangunan.
Diksusi ringan para Sultan Sumatera Timur di Aobi Cafe Siba City, Jalan Singgalang, Medan
pada Senin malam (16/2/2026) membahas upaya memajukan masyarakat dan dunia Melayu di Indonesia
Hadir pada pertemuan itu, antara lain, Sultan Deli Tuanku Sultan Mahmud Lamanjiji Perkasa Alam, Sultan Serdang Tuanku Akhmad Thala'a Syariful Alamsyah, Sultan Kualuh Ledong Tuanku Sultan Zainal Arifin Muhammad Syah, utusan Sultan Asahan Tengku Rina dan Tengku Syahreza, serta utusan Sultan Kota Pinang Datuk Bendahara Mahasiswa dan Isteri.
Diskusi berlangsung penuh keakraban dengan sajian makanan khas melayu yang dihidangkan Syarifuddin Siba sebagai tuan rumah.
Topik yang dibahas cukup beragam tapi terstruktur sehingga diskusi berjalan berurutan, mulai dari upaya membangun kesejahteraan masyarakat pantai timur, memperkuat solidarotas dan persatuyan masyarakat melayu, serta upaya meningkatkan peran kesultanan dalam pembangunan daerah.
“Diskusi ini sifatnya ringan saja karena lebih banyak membahas rencana membangun persatuan masyarakat melayu. Nantinya akan dibuat pertemuan yang lebih besar dengan melibatkan seluruh tokoh-tokoh melayu di Indonesia,” kata Syarifuddin Siba.
Dalam system perpolitikan di Indonesia saat ini, peran sultan memang tidak seperti dulu lagi yang memegang kendali system pemerintahan. Saat ini sultan lebih banyak bersifat sebagai simbol adat, budaya, dan pemersatu masyarakat.
Meski tidak lagi memiliki kewenangan administratif dalam pemerintahan, namun sultan tetap dihormati sebagai pemangku adat dan pelindung warisan sejarah. Terutama dalam budaya Melayu, sultan tetap dianggap sebagai tokoh pemersatu adat dan menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat melayu dengan pemerintah daerah.
Sistem pemerintahan di Indonesia juga mengakui kalau sultan berperan besar menjaga situs sejarah dan benda-benda pusaka dari masa lampau. Sultan juga menjadi figur sentral dalam mempromosikan pariwisata budaya yang berdampak pada ekonomi lokal. Oleh karena itu tangggungjawab moral sultan terhadap masyarakat tetap kuat.
Dengan
perannya yang penting dalam adat dan budaya mendorong sultan-sultan di Sumatera
Timur untuk membangkitkan kembali semangat kedaerahan dalam membangun bangsa. Sejalan
dengan keinginan itu, lima sultan di Sumatera Timur memulai dengan diskusi kecil sebagai langkah
awal membahas gerakan yang lebih besar di masa depan.
“Kita perlu mendorong agar masyarakat Melayu Sumatera Timur bisa berperan lebih aktif lagi dalam pembangunan,” kata Sultan Deli, Tuanku Sultan Mahmud Lamanjiji Perkasa Alam.
Sebagai anak muda yang tahu kondisi masyarakat Melayu Deli, Sultan Mahmud ingin sekali mendorong agar anak-anak muda melayu bisa berbuat lebih banyak berperan dalam bidang pendidikan, infrastruktur, budaya, pertanian dan kelautan serta lingkungan hidup dan lainnya.
“Jangan kata orang Melayu tidak punya kemampuan untuk itu. Kita punya potensi untuk penguatan di segala bidang. Makanya kita perlu mengoptimalkan potensi itu,” tambahnya.
Ada beberapa rumusan yang diperoleh pada pertemuan itu yang nantinya akan dibahas dalam lingkup yang lebih besar. Untuk membahas lebih detail lagi, usai lebaran nanti kelima sultan itu akan menyiapkan adanya pertemuan para sultan dalam tingkatan yang lebih besar lagi dengan melibatkan tokoh-tokoh melayu dari berbagai Indonesia.
“Kita akan menggagas adanya pertemuan masyarakat Melayu dengan semangat baru berskala nasional usai lebaran nanti,” kata Sultan Sedang, Tuanku Akhmad Thala'a Syariful Alamsyah.
Pertemuan itu nantinya akan menghadirkan pejabat setingkat menteri dari Jakarta. Beberapa poin yang diperoleh dalam diskusi kecil itu akan dibahas lebih ketat lagi pada pertemuan besar itu.
Syarifuddin Siba yang dikenal sebagai cendekiawan Melayu mengaku sangat bangga melihat semangat para sultan itu untuk membangkitkan kembali peran masyarakat Melayu dalam pembangunan. Ia pun bertekad akan menggalang para tokoh melayu lainnya untuk memperkuat keinginan para sultan itu.
“Insya Allah akan ada pertemuan masyarakat Melayu yang lebih besar lagi setelah lebaran ini,” tegasnya.
Nantinya pertemuan itu akan merumuskan langkah komprehensif dalam bentuk dokumen resmi tentang upaya dan langkah memajukan dunia melayu di masa depan. Dengan demikian nantinya masyarakat Melayu bisa tampil lebih berperan dalam pembangunan, sehingga kawasan melayu Sumatera Timur lebih maju dan berkembang. ***
