-->

Menteri Kebudayaan Dorong Tradisi Iftar Indonesia Masuk Warisan Budaya UNESCO

Sebarkan:
Berbuka puasa bukan hanya kegiatan religius, tapi juga dianggap budaya yang layak masuk agenda UNESCO

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut Ramadan bukan hanya urusan ibadah, tetapi juga peristiwa budaya yang hidup di Indonesia. Ia mengungkapkan pemerintah sedang mengupayakan agar tradisi iftar (berbuka puasa) dari Indonesia bisa masuk dalam daftar ekstensi Warisan Budaya Takbenda UNESCO, menyusul pencatatan yang sebelumnya diajukan sejumlah negara Timur Tengah, termasuk Turki.

Pernyataan itu disampaikan Fadli saat silaturahmi pegawai Kementerian Kebudayaan menjelang Ramadan 1447 H di Auditorium Gedung A Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Rabu (18/2). Acara tersebut mengusung tema “Keindahan Toleransi Ibadah di Nusantara”.

“Iftar atau berbuka puasa merupakan peristiwa budaya dengan ragam tradisi yang sangat khas di berbagai daerah. Setiap wilayah memiliki cara dan kekhasan tersendiri yang mencerminkan kekayaan budaya Nusantara,” kata Fadli.

Ia menyinggung keragaman kuliner Ramadan, dari takjil hingga menu berbuka, sebagai ekspresi identitas dan kreativitas warga. Menurut dia, praktik harian itu memperlihatkan bagaimana nilai spiritual dan budaya saling menguatkan.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan Bambang Wibawarta menyebut kegiatan ini sebagai tradisi menyambut Ramadan. Ia menyebut kegiatan serupa dikenal sebagai munggahan, yakni kebiasaan berkumpul menjelang puasa untuk bersyukur dan mempererat silaturahmi. Bambang juga menekankan momentum ini harus berjalan beriringan dengan profesionalisme kerja pegawai.

Fadli juga menyebut Ramadan sebagai momentum “resetting” atau menata ulang diri: puasa 30 hari, menunaikan zakat, lalu menutupnya dengan saling memaafkan.

“Atas nama pribadi dan pimpinan, saya mengucapkan selamat menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah,” ujarnya. **

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini