-->

Harga Minyak Dunia Meningkat 38 Persen dalam Sepekan, Siap-Siap Harga BBM bakal Naik

Sebarkan:

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka opsi untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jika harga minyak dunia terus melonjak akibat perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.

Purbaya menjelaskan, opsi kenaikan harga BBM ini bisa tidak terelakkan apabila harga minyak melambung tinggi sehingga membuat belanja subsidi BBM dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bengkak. Ini menjadi salah satu hal yang dikaji oleh pemerintah untuk menghindari potensi defisit APBN tembus melewati batas 3%.

“Kalau memang anggarannya enggak kuat sama sekali, enggak ada jalan lain, kami berbagi dengan masyarakat sebagian. Artinya ada kenaikan BBM. Kalau memang harga [minyak dunia] tinggi sekali,” kata Purbaya dalam media briefing di kantornya, Jumat (6/3/2026) petang.

Diketahui, dalam asumsi makro APBN 2026, pemerintah menetapkan harga minyak sebesar US$70/barel. Namun demikian, Purbaya menyebut pihaknya sudah melakukan kajian guna mengambil langkah-langkah tertentu apabila nantinya harga minyak menyentuh level US$92/barel.

Meski demikian, Purbaya menegaskan pemerintah memiliki pengalaman menghadapi lonjakan harga minyak global. Dia mencontohkan, pada periode 2012–2013 saat harga minyak sempat melonjak hingga sekitar US$150/barel, namun ekonomi Indonesia tetap mampu bertahan.

Bendahara Negara juga menyinggung kebijakan penyesuaian harga BBM pada 2005 yang saat itu dinaikkan hingga 127%. Menurutnya, kebijakan tersebut tetap bisa dijalankan selama diimbangi kebijakan lain yang menjaga pertumbuhan ekonomi.

"Waktu itu tahun 2012-2013 harga minyak-kan sampai US$ 150, kita bisa survive. Tahun 2005, kita naikkan harga BBM sampai 127%. Kita bisa survive. Selama kebijakan lain dijaga. Jadi setiap kali ada kebijakan tertentu yang terpaksa dilakukan, pasti ada kebijakan yang lain yang tetap menjaga pertumbuhan ekonomi,” jelas Purbaya.

Di sisi lain, Purbaya menilai skenario terburuk tersebut belum tentu terjadi. Menurutnya, jika harga minyak berada di kisaran US$ 72/barel, maka kondisi fiskal masih relatif aman.

Sekadar catatan, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) telah melesat 19% sepanjang pekan ini. Meskipun demikian, kontrak berjangka tersebut sedikit melandai ke arah US$79/barel pada Jumat pagi setelah Presiden Donald Trump memberi sinyal akan adanya "tindakan segera" untuk meredam tekanan harga.

Sementara itu, jenis Brent bertahan di kisaran US$85/barel, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak pertengahan 2024 pada Kamis (5/3/2026).

Pasar minyak mentah terguncang hebat oleh konflik yang kini telah melibatkan belasan negara sejak AS dan Israel meluncurkan kampanye militer mereka pada 28 Februari 2026.

Seiring dengan meningkatnya intensitas pertempuran, jalur pelayaran melalui Selat Hormuz nyaris terhenti total.

Kondisi ini menyumbat pasokan minyak ke pasar global dan memaksa produsen mulai menghentikan produksi, sementara kilang-kilang minyak serta kapal tanker turut menjadi sasaran serangan.

Melonjak 38 Persen dalam Sepekan

Sementara dari pasar dunia disebutkan,  harga minyak melonjak tajam dalam sepekan terakhir seiring memanasnya perang Iran yang mengganggu jalur pengiriman energi global di Selat Hormuz. 

Harga minyak Amerika Serikat (AS) mencatat kenaikan mingguan terbesar setidaknya sejak 1985 pada Jumat (7/3/2026). Lonjakan ini terjadi karena konflik yang telah berlangsung hampir sepekan membuat Selat Hormuz, jalur vital pengiriman energi dunia, praktis tertutup bagi lalu lintas kapal. 

Harga minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), melonjak lebih dari 38 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelum konflik pecah. Harganya sempat menembus 92 dollar AS per barel. Sementara itu, harga minyak Brent sebagai acuan harga global naik sekitar 30 persen hingga diperdagangkan di atas 94 dollar AS per barel. 

Kenaikan ini menjadi lonjakan mingguan terbesar Brent sejak April 2020. Kedua acuan minyak tersebut kini berada pada level harga yang terakhir terlihat pada April 2024 untuk Brent dan setidaknya sejak Oktober 2023 untuk WTI. 

Kenaikan harga minyak ini dipicu salah satu gangguan pasokan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Para analis menilai harga minyak masih berpotensi naik lebih tinggi apabila konflik terus berlanjut. 

“Tanpa adanya kesepakatan dan penghentian cepat aktivitas militer, pasar minyak mentah bisa mulai mengalami gangguan besar dalam hitungan hari, bukan minggu atau bulan,” ujar analis strategi energi global Macquarie, Vikas Dwivedi, dikutip dari Yahoo Finance. ***


Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini