-->

Iran Lirik Pakistan dan Turki Jadi Penengah, Prabowo No Way..!

Sebarkan:

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Seyed Abbas Araghchi
Di tengah perang yang terus memanas di Timur Tengah, Iran mulai membuka celah diplomasi. Meski masih lantang menolak negosiasi langsung dengan Amerika Serikat, Teheran mengisyaratkan dua negara, Pakistan dan Turki berpotensi menjadi mediator untuk menjembatani komunikasi damai.

Iran sama sekali tidak melirik Indonesia sebagai mediator karena Presiden Prabowo dianggap tidak memililki kekuatan diplomasi yang kuat. Malah Prabowo cenderung berpihak kepada Trump. Lagi pula hubungan Indonesia dan Iran tidak bisa dikatakan baik.

Kalaupun Indonesia sempat mempromosikan diri sebagai mediator konflik Iran-Amerika, itu hanya pencitraan di dalam negeri saja. Guna menunjukkan kepada rakyat Indonesia bahwa Prabowo tokoh yang disegani di tingkat internasional. Padahal tidak sama sekali.

Iran justru memberi sinyal bahwa yang pantas jadi mediator adalah Pakistan dan Turki karena dua negara itu benar-benar dalam posisi netral melihat konflik ini.

Sumber diplomatik menyebut Pakistan telah lebih dulu menyampaikan proposal dari Washington kepada Teheran. Bahkan, Islamabad dikabarkan siap menjadi tuan rumah pembicaraan tingkat tinggi yang dapat digelar dalam waktu dekat, jika kedua pihak bersedia.

Di sisi lain, Turki juga disebut aktif memainkan peran sebagai penghubung komunikasi. Informasi ini diperkuat oleh pernyataan Harun Armagan yang mengungkap bahwa Ankara telah menyampaikan pesan antara kedua negara yang tengah berseteru.

Langkah ini menandai adanya ruang diplomasi di balik ketegangan militer yang terus meningkat. Namun demikian, sikap resmi Iran masih menunjukkan penolakan keras terhadap negosiasi langsung, terutama dengan pemerintahan Presiden Donald Trump.

Nada penolakan bahkan disampaikan secara terbuka oleh pejabat militer Iran. Juru bicara komando militer gabungan Iran, Ebrahim Zolfaqari, secara tegas menyatakan bahwa Iran tidak akan pernah mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat. “Tidak sekarang, tidak akan pernah,” tegasnya dalam pernyataan yang disiarkan televisi nasional Iran.

Senada dengan itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Beghaei menilai, langkah militer AS justru telah merusak jalur diplomasi yang sebelumnya sempat berjalan, khususnya dalam pembahasan isu nuklir.

Ia menyebut serangan yang dilakukan AS sebagai bentuk “pengkhianatan terhadap diplomasi”, sehingga membuat peluang negosiasi semakin kecil. Menurutnya, saat ini fokus utama Iran adalah mempertahankan kedaulatan negara di tengah konflik yang disebutnya sebagai agresi ilegal.

Di tengah dinamika tersebut, posisi Israel juga menjadi faktor penting. Seorang pejabat pertahanan Israel menyatakan keraguan bahwa Iran akan benar-benar menerima syarat perdamaian yang diajukan. Israel bahkan menilai proposal tersebut bisa saja hanya menjadi titik awal negosiasi yang berujung pada kompromi dari pihak AS.

Meski demikian, keterlibatan Pakistan dan Turki membuka kemungkinan baru dalam upaya meredakan konflik. Kedua negara memiliki hubungan diplomatik dengan Iran maupun Amerika Serikat, sehingga dinilai cukup strategis untuk menjembatani komunikasi yang selama ini buntu.

Namun, situasi di lapangan menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian masih panjang. Pernyataan keras dari kedua belah pihak, ditambah eskalasi militer yang belum mereda, membuat peluang negosiasi masih penuh ketidakpastian.

 

Di satu sisi, sinyal keterlibatan mediator menunjukkan bahwa pintu diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Namun di sisi lain, retorika politik dan militer yang semakin tajam justru memperlihatkan bahwa konflik ini belum akan berakhir dalam waktu dekat.

Kondisi ini menempatkan dunia pada posisi waspada, mengingat konflik di kawasan Timur Tengah tidak hanya berdampak regional, tetapi juga berpotensi memicu ketidakstabilan global, terutama di sektor energi dan keamanan internasional. ***

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini