Sudah ada banyak negara yang berupaya tampil di Tengah untuk
menjadi juru damai konflik antara Iran melawan Amerika dan Israel. Sebut
saja misalnya tawaran dari Rusia, Turki dan sejumlah negara Eropa. Namun semua ditolak
mentah-mentah oleh Iran. 
Abbas Araghchi
Negara itu tetap memutuskan siap berperang melawan Amerika dan Israel sampai titik darah penghabisan. Kecuali lawannya itu mundur dan menghentikan perang.
"Kami tidak mau berdamai dengan setan," ujar Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Ucapan itu menegaskan bahwa peluang dialog dengan Amerika sudah tamat. Alih-alih berunding, Garda Revolusi Iran justru tengah bersiap untuk perang habis-habisan.
Dalam wawancara eksklusif dengan PBS News, yang dikutip Rabu (11/3/2026), Araghchi menutup rapat pintu diplomasi. Ia menyebut sejarah panjang pengkhianatan Amerika sebagai alasan utama mengapa duduk semeja dengan Washington adalah kesia-siaan.
"Tembakan terus berlanjut, dan kami sangat siap untuk terus menghujani mereka dengan rudal selama diperlukan. Berbicara dengan orang Amerika tidak lagi masuk dalam agenda kami," tegas Araghchi dengan nada dingin.
Apa boleh buat, negara-negara yang ingin menjadi juru damai pada konflik itu terpaksa harus mundur. Iran mengaku belum siap melakukan gencatan senjata. Mereka sudah terlanjur mempersiapkan pasukannya guna berperang melawan musuh.
"Iran pada dasarnya tidak menolak prinsip mediasi itu sendiri, tetapi pada saat ini, mereka tidak setuju akan adanya gencatan senjata. Mereka masih mau berperang,” ucap sebuah sumber dari Kementerian Luar Negeri Turki.
Sebelumnya, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan Moskow siap membantu meredakan ketegangan di Timur Tengah, meskipun mengakui langkah tersebut memerlukan koordinasi dengan banyak pihak.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran, termasuk Teheran, sehingga menimbulkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa. Iran lantas melakukan serangan balasan terhadap wilayah Israel dan pangkalan militer AS di seantero Timur Tengah.
AS dan Israel awalnya mengklaim serangan tersebut diperlukan untuk menangkal ancaman dari program nuklir Iran, tetapi kemudian jelas mereka sebenarnya menginginkan pergantian kekuasaan di Iran.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur pada hari pertama serangan AS-Israel. Iran kemudian menyatakan masa berkabung selama 40 hari. Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran sinis terhadap hukum internasional.
Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengutuk serangan AS-Israel terhadap Iran tersebut. Mereka mendorong deeskalasi dan penghentian permusuhan secara serta-merta.
Prabowo gagal dapat Panggung
Sementara Presiden Indonesia, Prabowo Subianto gagal menjadikan perang itu sebagai alasan baginya untuk mendapat panggung. Tadinya Kementerian Luar Negeri dan pihak Istana Presiden berupaya memanfaatkan perang Iran untuk menaikkan citra Prabowo.
Mereka terus berupaya mempromosikan bahwa Prabowo akan menjadi juru damai bagi konflik itu.
Namun langkah itu tercium oleh publik sebagai gimmick yang tidak punya makna. Bagaimana mungkin presiden negara yang tak terpandang seperti Indonesia tiba-tiba muncul sebagai penengah konflik. Lagi pula, Prabowo sudah dikenal sebagai antek-antek Donald Trump.
Bayangkan, pemimpin besar seperti Presiden Rusia Putin saja ditolak Iran sebagai juru damai, apalagi Prabowo.
Tak heran jika pengamat militer, Connie Rahakundini Bakrie menilai Prabowo hanya berupaya mencari panggung di atas perang itu.
Connie menyarankan agar Prabowo lebih baik focus menangani ekonomi Indonesia yang mulai kacau balau karena kenaikan harga minyak dan inflasi yang tinggi.
Dalam unggahan video di akun Instagram @media_ideapol_institute, secara blak-blakan Connie menyebut bahwa saat ini Indonesia sedang 'tidak baik-baik saja'. Pernyataan tersebut menjadi sinyal kuat bagi Jakarta untuk lebih mawas diri dan memprioritaskan pembenahan internal sebelum melangkah terlalu jauh dalam diplomasi konflik luar negeri yang sangat kompleks.
Kekhawatiran Connie bukan tanpa alasan. Dalam video tersebut, ia mengungkapkan baru saja melakukan pertemuan intensif dengan sejumlah tokoh kunci di sektor ekonomi nasional, termasuk para mantan pejabat tinggi keuangan negara.
Hasil diskusi tersebut memberikan gambaran adanya kekhawatiran mendalam terkait stabilitas ekonomi nasional.
"Indonesia tidak sedang baik-baik saja," tegas Connie.
Menurutnya, penguatan pilar ekonomi dan politik dalam negeri harus menjadi fondasi utama. Tanpa stabilitas internal yang kokoh, memaksakan diri masuk ke pusaran konflik geopolitik global justru berisiko menyeret Indonesia ke dalam dinamika yang sulit dikendalikan.
Diplomasi Bukan Sekadar Mediator
Menanggapi wacana Indonesia yang ingin mengambil peran sebagai mediator dalam ketegangan di Timur Tengah, Connie menyarankan agar langkah tersebut dilakukan dengan kalkulasi yang sangat matang. Ia menekankan bahwa peran diplomasi aktif sebaiknya tetap berada di bawah payung lembaga internasional yang sah, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Tanpa perhitungan strategis yang presisi, manuver diplomatik di tengah perseteruan Iran versus koalisi AS-Israel justru bisa menjadi bumerang bagi kepentingan nasional. Risiko politik dan strategisnya dianggap terlalu besar jika benteng domestik belum sepenuhnya kuat.
Bagi Connie, fokus utama pemerintah saat ini seharusnya tertuju pada penguatan stabilitas nasional. Tiga pilar utama—ekonomi, politik, dan keamanan—harus dipastikan aman terlebih dahulu sebelum Indonesia memutuskan untuk tampil sebagai pemain kunci di kancah global yang sedang membara.
Pesan ini menjadi catatan penting bagi para pengambil kebijakan: jangan sampai ambisi di luar negeri justru mengabaikan kerentanan yang ada di dalam rumah sendiri. ***