![]() |
| Presiden Indonesia, Prabowo Subianto bersalaman dengan orang yang sangat ditakutinya, Presiden Amerika Donald Trump |
Niat Presiden Prabowo Subianto untuk tampil sebagai mediator konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran menuai tanda tanya besar. Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal bahkan menilai inisiatif itu sangat tidak realistis, tidak bisa diterima akal.
Bagaimana mungkin bisa jadi juru damai, melihat Trump saja Prabowo takut. Tak bisa dibantah bahwa Prabowo adalah antek-antek Trump. Sampai-sampai Prabowo rela menjual martabat bangsa demi kejayaan bisnis Trump. Indonesia kini seakan tidak punya harga diri di mata Trump.
Simak saja apa yang dikatakan Trump soal Indonesia setelah Prabowo 'menjilat pantatnya' demi penurunan tarif impor.
“Kita sudah tandatangani perjanjian dagang dengan Indonesia di mana Amerika punya akses penuh terhadap hasil tambang di negara itu. Sebagai imbalannya, kita turunkan tarif sebagian untuk produk Indonesia yang masuk ke Amerika,” kata Trump beberapa waktu lalu.
Memang Trump sempat memuji Prabowo sebagai presiden yang berani dan hebat. Tapi semua orang tahu, itu adalah hiburan semata agar Prabowo tidak malu setelah ia direndahkan di mata dunia. Prabowo setidaknya sukses membawa Indonesia menjadi antek-antek Amerika.
Dalam situasi seperti itu, apa masuk diakal Iran akan percaya kalau Prabowo sebagai penengah konflik? Kalau negara itu masih punya akal sehat, tentu mereka menolak. Dan pasti menolak sebab mereka sudah tahu bagaimana takutnya Prabowo kepada Trump.
Meski demikian, Pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri terus berupaya membangun citra bahwa Prabowo adalah pemimpin yang berani. Lihat saja dari cuitan Kemenlu yang membangga-banggakan Prabowo.
“Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi,” tulis Kementerian Luar Negeri RI dalam akun X @Kemlu_RI, Sabtu (28/2/2026).
Pernyataan tersebut dikeluarkan di tengah serangan masif AS-Israel terhadap Iran akhir pekan kemarin. Bagi orang bodoh, tentu cuitan itu sangat membanggakan. Tapi bagi mereka yang punya akal sehat, tentu saja paham kalau itu adalah gimmick dari Kemenlu untuk menaikkan citra Prabowo.
Gimmick itu tentunya bukan untuk internasional, tapi untuk masyarakat dalam negeri agar semakin kagum dengan Prabowo. Bisa jadi permainan Kemenlu ini cukup berhasil, sebab pada kenyataannya masih banyak orang bodoh di Indonesia yang percaya dengan propaganda palsu itu.
Hanya orang bodoh yang percaya dengan kemampuan Prabowo mendamaikan perang itu. Ya, orang Bodoh...!
Nyatanya, perang terus berkecamuk. Tak lama setelah AS dan Israel melancarkan serangan yang disebut Operation Epic Fury, Iran langsung membalas dengan menembakkan rudal balistik dan drone ke aset dan sekutu AS di seluruh wilayah, menargetkan Israel, Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Yordania.
Situasi kian memanas setelah pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Khamenei meninggal dalam serangan AS dan Israel.
Menurut sejumlah sumber, Indonesia pernah berperan aktif sebagai mediator konflik dan berhasil menyelesaikan konflik internasional. Indonesia pernah menjadi mediator perjanjian damai Filipina dengan pasukan bersenjata Moro National Liberation Front (MNLF), sejak 1993, yang kemudian berujung pada disepakatinya perjanjian damai pada 2 September 1996 di Manila, Filipina.
Indonesia juga pernah terlibat dalam penyelesaian konflik Vietnam-Kamboja pada 1988-1989. Salah satu bentuk mediasi dengan mengadakan Jakarta Informal Meeting (JIM) yang digelar sebanyak tiga kali. Terdapat tiga hal yang disetujui dalam JIM, di antaranya kedua negara yang bertikai, Kamboja dan Vietnam sepakat melakukan gencatan senajata.
Bunuh Diri Politik
Pernyataan Kemlu memang mendapat respons positif dari Kedutaan Besar Republik Islam Iran. Mereka juga menyambut kesiapan Presiden Prabowo untuk mengambil peran dalam upaya mediasi dari konflik yang terjadi di Timur Tengah tersebut.Politik
“Apresiasi atas dukungan konsisten pemerintah dan rakyat Indonesia serta menyambut kesiapan Presiden Republik Indonesia untuk melakukan mediasi dalam konflik ini,” tulis Kedutaan Besar Republik Islam Iran dalam siaran pers.
Namun Iran pesimis dengan ambisi Prabowo itu. Mereka malah meminta agar Pemerintah Indonesia pengambilan sikap tegas dalam mengutuk agresi dan kejahatan Amerika Serikat dan Israel.
Iran menyebutkan bagaimana kejamnya AS dan Israel melancarkan serangan terhadap lokasi-lokasi sipil di Iran, termasuk sekolah, saat warga menjalankan ibada puasa Ramadan.
Makanya, gagasan Prabowo untuk menjadi mediator dalam konflik ini dipertanyakan banyak pihak, di antaranya mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal. Ia menyebut inisiatif ini sangat tidak realistis.
Dino Patti Djalal menyebutkan sejumlah tantangan yang mungkin dihadapi Indonesia mendekati tiga negara yang sedang terlibat perang tersebut.
Pertama, soal AS itu sendiri. Menurut Dino, AS jarang sekali bersedia dimediasi pihak ketiga melakukan serangan militer terhadap musuhnya. AS juga dinilai tidak mungkin bersedia mengirim perwakilannya, seperti Trump atau Menlu AS Marco Rubio melakukan kunjungan ke Teheran.Jalur Mudik Indonesia
"Saya meyakini Presiden Trump tidak ingin Indonesia ikut campur karenamood-nya gelap mata untuk menumbangkan Iran," kata Mantan Duta Besar Indonesia untuk AS ini dalam akun @dinopattidjalal di Instagram, Minggu (1/3/2026).
Belum lagi kemungkinan Presiden Prabowo harus bertemu PM Israel Benjamin Netanyahu dalam upaya mediasi. Ini, menurut Dino, seperti “bunuh diri politik” bagi presiden di dalam negeri.
”Ini (pertemuan antara Prabowo dan Netanyahu), kan, secara politik, diplomatik, dan juga logistik tidak mungkin terjadi. Dan ini akan menjadipolitical suicideatau bunuh diri politik bagi Presiden Prabowo di dalam negeri,” ujar Dino.
Berani Tentukan Posisi
Tantangan lain yang juga disoroti adalah soal hubungan diplomatik Indonesia dan Iran yang tidak terlalu erat. Menurut penilaiannya, selama 15 bulan memimpin, interaksi Presiden Prabowo dengan otoritas Iran nyaris tidak ada.
Prabowo belum pernah berkunjung ke Iran. Dalam sejumlah forum multilateral seperti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) dan KTT D-8 2025, belum pernah ada pertemuan bilateral antarkedua pemimpin negara.
”Menlu (Menteri Luar Negeri) Sugiono juga tidak pernah melakukan kunjungan bilateral ke Teheran walaupun pernah bertemu sekali dengan Menlu Iran di Geneva (Swiss). Dengan kata lain, belum ada suatu kedekatan atau trust dari Pemerintah Iran terhadap Pemerintah Indonesia sekarang ini,” tutur Dino di akun medsosnya tersebut.
Alih-alih mencari peran sebagai mediator, menurut Dino yang penting bagi Indonesia saat ini adalah menegaskan posisi secara jelas, tegas, dan lugas. Indonesia harus berani menyatakan kebenaran atau kesalahan, apa pun risikonya.Politik
Serangan AS-Israel terhadap Iran bertentangan dengan prinsip-prinsip yang disampaikan Presiden Prabowo dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 2025.
Dino juga mengingatkan, Indonesia tentu tidak ingin dicatat sebagai negara yang tidak berani mengkritik langkah apa pun yang diambil sebuah negara adidaya. Sejarah pun mencatat bahwa Indonesia merupakan negara yang tidak pernah ragu berbeda pendapat dengan AS jika sikap AS dinilai bertentangan dengan prinsip perdamaian.
Misalnya, dalam kasus serangan AS terhadap Irak, mengenai konvensi hukum laut PBB, begitu juga tentang keanggotaan China di PBB.
”Kalau ini terjadi (tidak mengkritik serangan AS-Israel ke Iran), berarti politik luar negeri kita tidak lagi politik bebas aktif,” ujar Dino. ***
