-->

Ingin Menghapus Dosa, Tiba-Tiba Luhut Pandjaitan Mengaku Ikut Menolak Keberadaan PT TPL

Sebarkan:

 

Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan

Kemana angin berhembus, ke situlah Luhut Binsar Pandjaitan melambai. Kalau sebelumnya ia sangat getol mendukung operasional PT Toba Pulp Lestari (TPL), sekarang sikapnya berubah. Begitu tahu posisi PT TPL sedang oleng didemo di sana sini, tiba-tiba saja Luhut mengaku sebagai sosok yang menolak keberadaan industry bubur kertas itu sejak awal.

“Saya juga sejak dulu menolaknya,” kata Luhut.

Dalam statusnya di akun Instagram pribadinya @luhut.pandjaitan Senin (12/1/2026), Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) itu mengungkapkan bahwa dirinya telah menolak keberadaan PT TPL Tbk (INRU) sejak awal 2000-an, tepatnya pada era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Pernyataan ini disampaikan Luhut untuk membantah kabar kepemilikannya sebagai salah pemegang saham di PT TPL.

Luhut mengisahkan awal mula dia menolak beroperasinya perusahaan yang memproduksi bubur kertas tersebut yakni ketika ia melakukan perjalanan ke kawasan Danau Toba pada 2001.

"Saya nolak TPL itu sebenarnya sejak saya lihat sendiri, waktu saya (menjabat sebagai) Menperindag. Waktu saya pergi ke Toba, ke Gereja HKBP," ucap Luhut memulai kisahnya.

Saat melintas di sekitar area perusahaan, Luhut melihat adanya aksi demonstrasi warga terkait perusahaan yang sebelumnya dikenal dengan nama PT Inti Indorayon Utama Tbk. Rasa penasaran membuatnya berhenti dan turun dari mobil untuk langsung menemui warga.

Menurut Luhut, warga menyampaikan kekhawatiran soal kerusakan lingkungan akibat operasional perusahaan tersebut, mulai dari pencemaran air Danau Toba, bau menyengat dari aktivitas pabrik, hingga dampak penebangan hutan.

"Jadi Anda bayangin tahun 2001 saja, rakyat itu sudah paham mengenai lingkungan," kata Luhut.

Setelah mengetahui masalah tersebit, Luhut mengaku langsung menyampaikan usulan kepada Presiden RI ke-4 Gus Dur agar operasional TPL dihentikan sementara. Meski kondisi ekonomi saat itu tidak mudah dan menuai pro-kontra, perusahaan tersebut sempat ditutup sementara oleh pemerintah pada 2001.

Namun, seiring berjalannya waktu, perusahaan kembali beroperasi pada 2003. Jika melihat historisnya, setelah itupun Toba Pulp Lestari sempat beberapa kali berhenti beroperasi sementara.

"Berjalannya waktu, itu dibuka lagi karena lobinya itu luar biasa sehingga buka lah itu. Dan situlah menurut saya pemotongan kayu, kalau diurut nanti pakai foto satelit kan bisa dilihat betapa zaman itu sebenarnya kerusakan yang paling besar hutan di Tapanuli adalah karena TPL ini, Indorayon ini," ungkap Luhut.

Ia juga menyampaikan bahwa dia telah mengusulkan kepada Presiden Prabowo Subianto agar lahan TPL digunakan untuk mendukung pengembangan industri perbenihan hortikultura di Humbang Hasundutan, Sumatera Utara sehingga dapat membuka lapangan usaha baru bagi masyarakat sekitar.

"Jadi menurut saya, enggak ada gunanya itu lagi Toba Pulp di situ dan Toba Pulp itu sudah cukup itu, itu kan sudah gak benar," tegasnya.

Luhut juga mengaku telah menyarankan kepada Presiden Prabowo agar izin usaha Toba Pulp Lestari dicabut karena hanya merugikan negara dan merusak lingkungan.

"Masa kita dikontrol oleh satu orang saja yang mengontrol hampir 200.000 hektare tanah di sana? Ya enggak benar lah. Saya setuju banget dengan Presiden, itu orang-orang kaya yang menikmati hasil bumi kita tinggal saja di luar, bawa duitnya keluar. Apa yang kita dapat? Ya kerusakan ini yang kita dapat," kata Luhut.

Oleh karenanya, dia mengecam pihak-pihak yang menuduhnya memiliki sebagian saham Toba Pulp Lestari dan meminta pihak tersebut untuk membeberkan buktinya.

"Kalau ada orang nuduh saya punya saham, saham mana? Tunjukin! Saya tidak pernah punya saham, kecuali di perusahaan saya, yaitu Toba Sejahtra, yang saya buat sendiri. Di situ ada Kutai Energi, satu-satunya yang punya IUP yang saya dapat tahun 2003 atau 2004, IUP batu bara di Kutai Kertanegara, ya itu, itulah sampai hari ini milik saya," tukasnya.

Pernyataan Luhut ini bisa dikatakan sangat berbeda dengan langkahnya sebelumnya yang  sangat mendukung opeasional PT TPL. Bahkan Ketika Perusahaan itu berganti nama dari PT Inti Indorayon Utama menjadi PT Toba Pulp Lestari, Luhut disebut-sebut berada di belakangnya. Luhut pula yang sangat mendukung operasional jkembali perusahaan itu.

Tapi sekarang situasinya berbeda. Setelah melihat posisi PT TPL mulai melemah, Luhut pun berpindah Haluan menjadi sosok yang ikut mendukung penutupan PT TPL. Malah ia minta agar lahan PT TPL dialihkan negara  menjadi lahan pertanian.

Ya, begitulah dinamika politisi kita. Ke mana angin berhembus, ke situ layangan diterbangkan. Sekarang Luhut pun ikut-ikutan mendukung penutupan PT TPL. Hahaha…***

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini