-->

850 Pengungsi Sumut Masih Hidup di Tenda, Ingat Janji Bobby Menginapkan Mereka di Hotel

Sebarkan:

Sejumlah pengungsi korban bencana banjir di Sumut masih tinggal di tenda-tenda darurat. Pengungsi yang tinggal di tenda itu terdapat di Tapanuli Tengah
Sebagian umat muslim sudah melaksanakan Ramadan hari ini Rabu (18/2/2026), sebagian lagi memulainya Kamis esok. Ingat, Gubernur Sumut Bobby Nasution pernah berjanji sebelum Ramadan tiba, korban bencana di Sumut tidak ada lagi yang tinggal ditenda darurat. Mereka akan diinapkan di rumah hunian sementara (huntara) yang lebih higienis. 

Kalau huntara belum selesai, Bobby berjanji akan menginapkan mereka di hotel agar lebih nyaman melaksanakan ibadah puasa Ramadan.

“Kita akan kebut pembangunan huntara agar tidak ada lagi pengungsi korban bencana di Sumut yang tinggal di tenda darurat. Kalau tidak selesai juga, bila perlu nanti kita sewakan hotel bagi pengungsi itu agar mereka khusuk melaksanakan puasa,” demikian janji Bobby yang diucapkannya saat mengunjungi korban bencana Tapanuli Tengah beberapa waktu lalu.

Janji itu selayaknya ditagih sebab sampai hari ini Rabu (18/2/2026) masih ada sekitar 850 pengungsi korban bencana banjir Sumut yang tinggal di tenda darurat. Semua pengungsi itu berada di wilayah bencana Tapanuli Tengah.

Mereka masih menunggu selesainya pembangunan huntara yang sedang dikerjakan pemerintah. Sebagian huntara sudah selesai dibangun dan telah ditempati pengungsi. Tapi masih ada yang dalam proses pengerjaan sehingga belum semua pengungsi bisa ditampung. 

Mereka yang belum pindah ke huntara, sampai hari ini masih tinggal di tenda darurat. 

Bobby harus melihat realita ini. Apalagi sebagian dari pengungsi itu adalah umat muslim. Bagaimanapun juga, Bobby harus memenuhi janjinya. Jangan lagi biarkan Bobby menebarkan janji yang tidak  bisa ditepati.

Kasatgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana Sumatera sekaligus Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian juga mengakui bahwa sampai sehari menjelang Ramadan masih banyak pengungsi korban bencana Sumatera yang tinggal di tenda darurat, meski jumlahnya sudah berkurang.

Tito mengungkapkan jumlah pengungsi di tiga provinsi yang masih tinggal di tenda darurat sebanyak 12 ribu orang dari sebelumnya dua juta jiwa.

"Bencana hidrometeorologi di tiga provinsi ini melibatkan korban yang meninggal dunia, dalam data kita adalah 1.205 orang dan yang hilang 139 orang, dan pengungsi juga tadinya dua juta lebih sekarang menjadi lebih kurang 12.994 orang yang ada di tenda," ujar Tito dalam rapat evaluasi dan koordinasi pemerintah bersama DPR di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu, 18 Februari.

"Pengungsi di Aceh paling banyak, yang masih tinggal di tenda, yakni sebanyak 12.144 jiwa, kemudian yang di sumut ada 850 jiwa lagi semuanya ada di Tapteng (Tapanuli Tengah). Sedangkan di Sumbar, Alhamdulillah tidak ada lagi yang di tenda," imbuhnya.

Tito menuturkan, jumlah kabupaten kota yang terdampak banjir dan longsor Sumatera sebanyak 52 kabupaten/kota, 491 kecamatan, 4.511 desa, termasuk kerusakan rumah baik ringan, sedang maupun yang hilang sesuai data.

Fasilitas yang rusak diantaranya adalah fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, jembatan yang rusak maupun roboh, fasilitas ibadah baik masjid maupun gereja, jalan, kemudian fasilitas umum lain serta pengungsi.

"Dari data, yang di Sumbar saat ini sudah nol, dari sebelumnya 16.164 ada yang sudah pulang kembali, mendapat stimulan bantuan untuk rusak rumah ringan atau sedang sedangkan yang berat atau yang hilang tinggal di huntara atau mendapat DTH (dana tunggu hunian)," ungkap Tito.

"Jadi Sumbar, kami sudah melakukan pengecekan di 16 kabupaten/kota tidak terdapat pengungsi di tenda. Sumbar yang meninggal adalah 267 orang dan yang hilang adalah 70 orang. Kami lanjutkan di Sumbar 16 dari 19 kabupaten yang ada terdampak, 125 kecamatan, juga ada kerusakan-kerusakan baik rumah fasdik, faskes, rumah ibadah, sebagaimana data," sambung mantan Kapolri itu.

Untuk korban bencana di Sumatera Utara, Tito menyampaikan bahwa korban yang wafat sebanyak 376 jiwa, dan yang hilang sebanyak 40 orang. Kemudian, pengungsi yang semula 53.523 orang menjadi 850 yang berada di Tapteng.

"Di samping itu, ada kerusakan rumah kurang lebih 30 ribu lebih baik rusak ringan, sedang maupun berat. Kemudian untuk Sumut dari 33 kabupaten/kota yang ada 18 terdampak, kecamatan 163, desa 897, juga ada rumah yang rusak ringan, sedang, berat maupun hilang, lalu ada fasdik, faskes, jembatan, termasuk gereja. Jumlah pengungsi yang tadi 53.523 sekarang tinggal 850 khususnya di Tapteng," katanya.

Kemudian di Aceh, warga yang wafat ada sebanyak 562 jiwa, yang hilang 29 orang dan pengungsi semula 1,4 juta orang sekarang tersisa 12.144 orang yang ada di tenda.

"Kerusakan rumah 262.258 dibagi klasifikasi rumah ringan, sedang dan berat. Kemudian untuk aceh ini memang dari 23 kabupaten/kota, 18 kabupaten/kota terdampak, kecamatan 203, desa atau kampung 3.046. Juga rumah yang ringan, sedang, dan hilang, lalu ada fasdik, faskes, rumah ibadah, kami lupa juga ada pertanian, perkebunan baik di Aceh maupun di Sumut dan di Sumbar," jelasnya.

Selain itu, lanjut Tito, jumlah korban pengungsi sebagaimana data di Aceh ada 12.144 paling banyak di Aceh utara, 5.197 di Aceh Tenggara, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Bener Meriah, Bireun, Gayo Lues, Lhokseumawe, dan Nagan Raya. Untuk Sumut, 850 orang yang masih ngungsi di tenda.

"Seperti diketahui beberapa waktu yang lalu di Tapteng terjadi banjir lagi dan dari 18 kab/kota yang tinggal di tenda sebanyak 850. Sumbar pengungsi dalam catatan kami dan kami cek seluruh kepala daerah itu nol, tidak ada lagi yang tingal di tenda," kata Tito.

Tito juga melaporkan progres pembangunan hunian sementara (huntara). Di Aceh, rencana pembangunan meliputi 14.967 unit, di Sumut 993 unit, dan di Sumbar 728 unit.

"Yang sudah terbangun di Aceh 6.676, Sumut 893, sumbar 721. Jadi total rencana 16.688 (unit), yang sudah terbangun 8.260 baik dari Danantara, BNPB, baik kementerian PU," terangnya.

Kemudian soal penyaluran dana tunggu hunian (DHT). Tito menyebut, DHT di Aceh sudah turun sebesar 94 persen, Sumut 99 persen, sumbar 97 persen. "Ini khusus untuk rumah rusak berat atau yang hilang. Mereka memilih untuk kontrak sewa atau tinggal di rumah keluarganya. Diberikan dana hunian Rp600 ribu x 3, (total) Rp1,8 juta. Minggu lalu kita melaksanakan secara serentak di 25 kabupaten/kota," sebutnya.

Sedangkan hunian tetap, Tito mengatakan rencana pembangunan huntap di Aceh ditargetkan sebanyak 9.246 unit, di Sumut 3.462 unit, dan Sumbar 3.621 unit. "Yang sekarang di Aceh sudah terbangun 302 (BNPB), Sumut ada 267 di antaranya dari Kementerian PKP, dan Sumbar 695," katanya.

"Jadi total rencana huntap itu adalah 16.039 untuk rumah berat atau hilang, sekarang baru terbangun 1.254," pungkas Tito. ***

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini