![]() |
| Presiden Prabowo Subianto melakukan pertemuan bilateral dengan Raja Kerajaan Yordania Hasyimiah Raja Abdullah II ibn Al Hussein di Istana Basman, Amman, Rabu (25/2). |
Entahlah, tidak bisa dipahami akal Prabowo soal Palestina ini. Begitupun, ia tanpa rasa malu menegaskan soal masuknya Indonesia dalam Board of Peace itu saat pertemuan bilateral dengan Raja Abdullah II ibn Al Hussein di Istana Basman, Amman, Rabu 25 Februari
Menurut Prabowo, keterlibatan Indonesia dalam BoP, yang diinisiasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump, serta dukungan terhadap rencana 20 poin, merupakan kontribusi aktif Indonesia dalam mencari solusi jangka panjang bagi konflik Palestina.
“Itulah sebabnya ketika kami diundang untuk bergabung dalam Board of Peace dan kami mendukung rencana 20 poin dari Presiden Donald Trump, semuanya dilakukan dengan tujuan dan upaya untuk melakukan apa pun yang kami bisa, guna mencapai solusi yang langgeng tersebut,” ujar Prabowo.
Namun Prabowo tidak mau secara transparan menegaskan bahwa masuknya Indonesia dalam Board of Peace adalah karena tekanan Amerika. Jika Indonesia menolak, Trump pasti tidak mau menjalin perjanjian dagang dengan Indonesia.
Ini yang ditakutkan Prabowo sehingga ia membawa Indonesia bergabung dalam board of Peace itu. Yang penting harus diingat, Israel juga menjadi salah satu anggota penting dalam Board of Peace.
Dan baru-baru ini pejabat Amerika telah menegaskan bahwa Israel tidak hanya berhak menguasai Palestina, tapi juga berhak menguasai setengah dari wilayah negara-negara Arab.
Jadi, masih percaya kalau Board of Peace buatan Amerika akan berpihak kepada Palestina?
Kalau Anda tidak punya otak, ya, bisa dipahami kalau Anda percaya. Tapi kalau menggunakan nalar akal sehat, bagaimana mungkin Israel yang ada di dalam Board of Peace itu setuju kalau Palestina akan menjadi negara merdeka. Yang lebih aneh lagi, di dalam Board of Peace itu tidak ada perwakilan dari Palestina sama sekali.
Indonesia resmi bergabung dalam Dewan Perdamaian yang diluncurkan pada ajang World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss. BoP dirancang untuk bermitra dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam mengawasi gencatan senjata, menjaga keamanan, serta mendukung rekonstruksi di wilayah konflik, termasuk Gaza, Palestina.
Pertemuan perdana negara-negara anggota BoP digelar di Washington pada 19 Februari 2026. Dalam forum tersebut, Prabowo menyampaikan dukungan penuh Indonesia terhadap rencana 20 poin sebagai kerangka menuju stabilisasi dan perdamaian di Gaza.
Sebagai bentuk komitmen konkret, Indonesia menyatakan kesiapan mengirimkan 8.000 personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk bergabung dalam pasukan stabilisasi internasional (Internasional Stabilization Force/ISF).
Pasukan ini merupakan gabungan dari negara-negara anggota Dewan Perdamaian yang difokuskan untuk menjaga stabilitas di Gaza. Pasukan itu bukan untuk berperang, hanya berjaga-jaga saja. Jika nantinya pasukan itu mendapat serangan dari tentara Israel, kemungkinan mereka akan mundur.
Dalam situasi itu, Prabowo tetap saja bermulut besar dengan menegaskan bahwa Indonesia siap melakukan berbagai upaya nyata demi mewujudkan kemerdekaan bagi rakyat Palestina. Ia juga menekankan pentingnya penyelesaian konflik melalui two state solution atau solusi dua negara.
Dalam pertemuan tersebut, Prabowo mengajak Yordania mempererat koordinasi dan kerja sama strategis, mengingat posisi geografis negara tersebut yang sangat dekat dengan Palestina.
“Terima kasih banyak, Yang Mulia, atas tawaran dukungan yang baik bagi kontingen kami. Kami berharap dapat menjalin koordinasi dan kerja sama yang erat karena Anda berada paling dekat dengan persoalan di Gaza,” tutup Prabowo.
Langkah Indonesia bergabung dalam Board of Peace menandai peran aktif diplomasi RI di panggung global dalam mendorong perdamaian dan stabilitas kawasan Timur Tengah. ***
