![]() |
| Andar Amin Harahap, ketua Golkar Sumut yang terpilih pada Musda XI 2026 |
Musyawarah Golkar Sumut ke-11 yang berlangsung di Hotel JW Marriott telah berakhir. Hasilnya, Andar Amin Harahap terpilih untuk memimpin partai itu periode 2026-2031. Ia terpilih secara aklamasi karena merupakan satu-satunya calon yang memenuhi syarat. Sedangkan calon lain, Hendriyanto Sitorus gagal total karena tidak memperoleh dukungan yang mencukupi.
Namun dinamika yang terjadi pada Musda itu pada dasarnya bukan sekedar persaingan antara Andar Amin Harahap dan Hendiyanto Sitorus. Ada aura perlawanan arus bawah yang muncul di ruangan pertemuan untuk menunjukkan bahwa Golkar tidak bisa dikendalikan oleh dinasti keluarga, tidak bisa diintervensi kekuatan luar, dan juga tidak bisa diatur kekuasaan palsu.
Peserta Musda ingin menunjukkan bahwa Golkar Sumut adalah urusan rakyat Sumut, tidak bisa larut dalam scenario pusat. Para kader yang memiliki hak suara seakan berontak untuk mengatakan bahwa, “Pusat harus berhenti mendikte kami. Jangan rusak scenario kami dalam membangun partai ini!”
Scenario membangun kekuatan Golkar Sumut sebenarnya sudah berjalan mulus sejak lima tahun terakhir. Di bawah kepemimpinan Musa Rajekshah alias Ijeck, partai ini berhasil melambungkan suaranya di arus bawah.
Perolehan kursinya di parlemen meningkat dratis di semua tingkatan. Sumut yang selama beberapa periode selalu menjadi kendang Banteng, pada Pemilu 2024 beralih dalam naungan teduhnya Pohon Beringin.
Pada Pemilu 2019, sebelum Ijeck memimpin, perolehan kursi Golkar di seluruh kabupaten/kota di Sumut hanya 184 kursi. Pada Pemilu 2024 di masa kepemimpinan Ijeck, perolehan itu melonjak tajam menjadi 208 kursi di semua DPRD kabupaten/kota.
Begitu juga di tingkat provinsi, terjadi kenaikan cukup signifikan dari 15 kursi pada Pemilu 2019 menjadi 22 kursi pada Pemilu 2024.
Perolehan suara Golkar di DPR RI tidak kalah hebatnya. Pada Pemilu 2019 Golkar Sumut hanya mendapatkan empat kursi, tapi di masa kepemimpinan Ijeck perolehan meningkat jadi 8 kursi. Dengan prestasi yang cukup mengkilap ini tidak heran jika menguat dukungan agar Ijeck kembali duduk sebagai Ketua Golkar Sumut periode 2025-2030.
Ijeck pun sejak awal begitu optimis kalau kursi Ketua Golkar kembali berhasil ia duduki, sebab dari 33 DPC Golkar kabupaten/kota se- Sumut, sebagian besar sudah menyatakan dukungan kepadanya. Kiprahnya sangat bagus di berbagai daerah.
Boleh dikatakan Ijeck adalah ketua partai paling ternama di Sumut. Namanya menggelegar di kalangan anak muda, disegani di kalangan orang tua, dekat dengan tokoh agama, akrab di kalangan pegiat social. Ia aktif menebarkan bantuan di mana-mana.
Tapi dalam dunia politik, modal nama besar tidak cukup. Ia harus disertai air liur yang basah dan lidah yang Panjang sehingga bisa membuat elit pusat mabuk kepayang. Ijeck tidak memiliki modal terakhir ini. Malah ia dianggap bagian rezim lama yang bisa saja menghadirkan ancaman bagi rezim baru.
Walau hanya seorang ketua partai di provinsi, Ijeck dianggap bisa berpengaruh hingga tidak nasional, apalagi pergaulannya sangat luas.
Ijeck juga dikenal sangat dekat dengan Airlangga Hartarto, Ketua Umum DPP Golkar yang jabatannya telah digeser oleh Bahlilk Lahadalia. Malah mencuat kabar kalau Ijeck masuk dalam barisan yang ingin menggeser Bahlil Lahadalia dari jabatan ketua. Kabar penggeseran ini sempat memanas, tapi sekarang telah dingin kembali.
Di sisi lain, ada kekuatan luar yang terus menerus mencampuri internal Golkar Sumut demi mengamankan posisi Bobby Nasution menghadapi 2029. Dia adalah Jokowi begitu ngotot untuk memastikan bahwa partai ini akan mendukung menantunya di Pilkada nanti.
Maka itu, Bahlil Lahadia disebut-sebut mendapat perintah dari Jokowi untuk mengamankan jabatan Ketua Golkar Sumut agar ruang gerak Bobby menyongsong 2029 bisa lebih pasti. Dengan demikian, setidaknya sejak awal sudah ada dua partai yang pasti mendukung Bobby, yakni Golkar dan PSI.
Mengapa Golkar? Karena satu-satunya partai besar yang masih tunduk kepada pengaruh Jokowi adalah partai ini. Partai-partai lain yang dulunya ikut ‘memanjangkan lidah’ seperti PAN, PKB, Nasdem, sudah berganti tuan. Mereka hanya butuh Jokowi kala berkuasa, setelah itu urusan selesai.
Berbeda dengan Bahlil yang terjerat jasa karena Jokowi lah yang berperan mendudukkannya di singgasana ketua umum Golkar. Makanya bukan rahasia lagi kalau Bahlil bagaikan kerbau dicucuk hidung di depan tuannya. Ia harus siap membalas jasa itu.
Untuk wilayah Sumatera Utara, Bahlil harus menunjukkan kesetiaannya kepada Sang tuan melalui dukungan kepada Bobby. Ironisnya, yang menjadi korban adalah Ijeck karena Bobby sudah tidak sreg lagi dengan kepemimpinan Ijeck di partai itu.
Sejak awal, Bobby telah menjalin kerjasama dengan Ketua DPRD Sumut Erni Aryanti Sitorus untuk memback-up agar Hendriyanto Sitorus yang tampil menduduki kursi Ketua Golkar Sumut periode 2026-2031.
Hendriyanto adalah abang kandung Erni Ariyanti Sitorus. Keduanya adalah anak dari Khairuddin Syah Sitorus, tokoh Golkar Sumut yang juga mantan Bupati Labuhanbatu Utara.
Namun prilaku Hendriyanto yang dianggap arogan membuat para pimpinan DPD Golkar Kapaten/kota se-Sumut enggan mendukungnya. Lihat saja, meski telah mendeklarasikan diri maju sebagai calon ketua Golkar sejak tahun lalu, Hendriyanto tetap tak mampu menggalang dukungan dari akar rumput. Hanya DPD Golkar Labuhanbatu Utara yang pasti mendukungnya, itu pun karena ia menjabat ketuanya di sana.
Padahal dari 39 total pemilik suara dalam menentukan jabatan ketua Golkar Sumut, sebanyak 33 suara milik pengurus DPD Golkar Kabupaten/Kota di Sumut. Jelas itu merupakan jumlah yang sangat dominan.
Adapun 6 suara lainnya adalah milik Dewan Kehormatan DPD Golkar Sumut, DPP Golkar tingkat pusat, organisasi sayap politik parpol, organisasi pendiri, dan organisasi yang dirikan.
Hendriyanto kabarnya mendapat restu dari elit Golkar Pusat dan juga Gubernur Bobby Nasution untuk maju sebagai ketua Golkar Sumut, tapi ia lalai melobi pengurus Golkar kabupaten/kota. Bisa jadi karena merasa besar kepala karena merasa di atas angin.
Makanya, meski ia sudah mendeklarasikan diri sejak lama, dukungan tak juga bisa ia dapatkan dari pemilik suara lainnya.
Bandingkan dengan Andar Amin Harahap yang namanya muncul sebagai calon Ketua Golkar pada 17 Januari lalu, atau dua minggu sebelum Musda berlangsung. Begitu Andar mendeklarasikan diri sebagai calon ketua, berduyun-duyun pemilik suara memberikan dukungan kepadanya. Sampai-sampai tidak ada suara tersisa yang cukup untuk mendukung Hendriyanto Sitorus.
Seharusnya setiap calon ketua Golkar minimal mendapat dukungan 30 persen dari pemilik suara. Karena di Sumut terdapat 39 pemilik suara, berarti setiap kandidat harus menunjukkan surat dukungan setidaknya 12 pemilik suara.
Hanya dalam dua minggu, Andar Amin Harahap telah mampu mengumpulkan 31 suara dukungan. Berarti yang tersisa cuma 8 suara lagi.
Toh begitupun, 8 suara tersisa ini tidak bisa diperoleh Hendriyanto Sitorus. Setelah dihitung panitia Musda, Hendriyanto hanya resmi mendapatkan dukungan dua suara. Zonk..! Tak heran jika proses pemilihan ketua Golkar pada Musda itu berjalan singkat.
Andar Amin Harahap langsung didapuk sebagai Ketua karena tidak ada kandidat lain yang memenuhi syarat. Sedangkan Hendriyanto hanyalah macan ompong yang hanya bersuara keras di media, tapi tak bergigi di forum Musda.
![]() |
| Pelaksanaan Musda Golkar Sumut XI di Hotel JW Marriott, Medan |
Harus diakui, sebagian besar suara yang mendukung Andar Amin adalah pemilik suara yang tadinya siap mendukung Ijeck untuk kembali memimpin partai itu. Begitu tahu Ijeck sengaja disingkirkan oleh kubu Bahlil dan Bobby, mereka ramai-ramai membangun kekompakan untuk menyerukan perlawanan melalui kandidat lain.
Para pemilik suara itu tahu, upaya menyingkirkan Ijeck adalah strategis elit Golkar pusat untuk mendukung Hendiyanto Sitorus. Nantinya di bawah kepemimpinan Hendriyanto, Golkar Sumut akan dipaksa mendukung habis rencana pencalonan Bobby di Pilkada 2029. Dengan kata lain, partai ini harus bekerja untuk Bobby.
Rencana ini yang ditolak suara Golkar arus bawah. Mereka mencoba melawan dengan memunculkan kader lain sebagai calon setelah Ijeck dipaksa tidak boleh mencalonkan diri. Di sinilah kemudian muncul sosok Andar Amin yang dianggap sarat pengalaman dan lebih layak memimpin partai ke depan.
Andar bukanlah sosok orang biasa. Ia berpengalaman luas di pemerintahan karena pernah menjabat sebagai Walikota Padangsidempuan 2013-2018 dan Bupati Padanglawas Utara periode 2018-2024. Dan kini Andar sukses melanjutkan karir politiknya sebagai anggota DPR RI.
Andar merupakan alumni Sekolah tinggi Pemerintahan dalam negeri alumni 2005. Pria kelahiran 26 Januari 1982 ini sempat melanjutkan karir sebagai PNS di berbagai daerah sebelum akhirnya memutuskan menjadi politisi mengikuti jejak ayahnya Bachrum Harahap yang pernah menjabat Bupati Padanglawas Utara dua periode 2008-2018. Bachrum juga dikenal sebagai politisi senior Golkar.
Berkat nama besar keluarganya, karir politik Andar terus menanjak. Dia tidak pernah gagal dalam setiap pertarungan politik yang ia ikuti. Bahkan saat Pemilu Legislatif 2024, Andar adalah peraih suara terbanyak dari semua calon anggota DPR RI yang berlaga di daerah pemilihan Sumut 2.
Dapil ini mencakup sebagian besar wilayah Sumut bagian selatan dan kepulauan, meliputi Labuhanbatu, Labuhanbatu Selatan, Labuhanbatu Utara, Tapanuli Selatan, Kota Padang Sidempuan, Mandailing Natal, Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba, Nias, Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat, Kota Gunungsitoli, Padang Lawas, dan Padang Lawas Utara.
Perolehan suaranya di dapil itu mencapai 51.790 suara. Jumlah ini jauh melebihi suara anggota DPR RI lainnya di dapil yang sama. Sebut saja misalnya Martin Manurung (NasDem) yang memperoleh 39.196 suara, Rapidin Simbolon (Ketua PDIP Sumut) 31.916 suara, atau Sihar Sitorus (PDIP) sebanyakl 22.720 suara.
Dari perolehan suara ini bisa dipahami kalau memang sosok Andar yang sangat diterima arus bawah. Berbeda kelas dengan Hendriyanto yang bermain di tataran elit.
Di sisi lain, Andar Amin juga sangat dekat dengan Ijeck. Keduanya sama-sama aktif dalam Ormas Pemuda Pancasila. Tak heran jika basis pendukung suara Ijeck ramai-ramai bermigrasi ke Andar. Mereka enggan mendukung Hendriyanto karena dianggap bagian dari kepentingan elit yang akan membawa Golkar seakan milik keluarga Solo.
Dari realita ini bisa dipahami bahwa terpilihnya Andar Amin merupakan perlawanan dari arus bawah Golkar yang tidak ingin terus menerus didikte oleh pusat. Mereka tidak hanya memilih sosok pemimpin partai dengan track record yang baik, tapi ingin menunjukkan perlawanan terhadap hagemoni Bahlil dan Bobby yang ingin mengendalikan Golkar Sumut. **

