Amerika Serikat (AS) bersama Israel melancarkan serangan
paling ambisius terhadap Iran dalam beberapa dekade terakhir pada Sabtu
(28/2/2026). Operasi militer tersebut telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran,
Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah masyarakat sipil. Serangan AS itu mendapat
dukungan dari pasukan Israel yang juga sejak dulu tidak suka dengan Iran.
almarhum Ayatollah Ali Khamenei dan Donald Trump
AS dan Israel adalah dua mata uang yang tak terpisahkan. Kedua negara ini yang mempelopori berdirinya Board of Peace di Palestina. Mereka berhasil ‘menipu’ Indonesia di bawah kepemimpinan si antel Asing Prabowo untuk bergabung dalam badan itu. Mimpi Prabowo, Board of Peace akan memerdekakan Palestina.
Apa mungkin AS dan Israel sebodoh itu? Yang bodoh adalah Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo. Bermimpi di siang bolong kalau Isreal akan mendukung berdirinya negara Palestina merdeka!
Kembali ke soal Iran, langkah AS dan Israel menyerang negara itu adalah perjudian kebijakan luar negeri terbesar dalam masa kepemimpinan Presiden Donald Trump, yang sebelumnya berkampanye sebagai “presiden perdamaian” dan mengaku lebih memilih jalur diplomasi dalam menghadapi Iran.
Dalam pidato kenegaraan dan pesan video terbarunya, Trump memaparkan sejumlah tujuan utama di balik serangan tersebut. Berikut ini adalah lima alasan versi Donald Trump untuk menyerang Iran:
Mencegah Iran memiliki senjata nuklir
Trump menegaskan bahwa Iran “tidak boleh memiliki senjata nuklir”. Ia mengeklaim bahwa serangan sebelumnya telah “menghancurkan” program nuklir Iran, namun menuduh Teheran kembali membangun kapasitas tersebut.
Sebagaimana dilansir Reuters, Amerika Serikat dan Israel beralasan bahwa Iran semakin mendekati kemampuan memproduksi senjata nuklir. Namun, badan pengawas nuklir dunia, International Atomic Energy Agency, serta komunitas intelijen AS menilai bahwa Iran telah menghentikan program senjata nuklirnya sejak 2003.
Iran sendiri membantah memiliki ambisi senjata nuklir dan menyatakan pengayaan uranium dilakukan untuk tujuan sipil, sesuai haknya sebagai anggota Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir. Meski demikian, negara-negara Barat menilai tingkat pengayaan uranium Iran tidak memiliki justifikasi sipil yang kredibel dan menimbulkan kekhawatiran serius.
Menghentikan Program Rudal Iran
Trump juga menyoroti perkembangan program rudal Iran yang dinilai semakin mengancam. Ia menyebut Iran tengah mengembangkan rudal jarak jauh yang berpotensi menjangkau Eropa hingga wilayah Amerika Serikat.
Meski tidak memberikan bukti rinci, media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan adanya pengembangan rudal dengan jangkauan antarbenua.
Menghilangkan ancaman terhadap AS dan sekutunya
Menurut Trump, serangan ini bertujuan melindungi warga AS dengan menghilangkan ancaman langsung dari Iran dan kelompok proksinya.
Ia merujuk pada sejumlah insiden historis, termasuk krisis penyanderaan di Kedutaan Besar AS di Teheran pada 1979, serangan terhadap barak Marinir AS di Beirut pada 1983 yang menewaskan 241 personel militer, serta berbagai serangan terhadap pasukan dan kepentingan AS di Timur Tengah. Trump juga menyinggung dukungan Iran terhadap kelompok militan seperti Hamas, yang terlibat dalam serangan terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.
Isu pelanggaran HAM terhadap demonstran
Dalam pidatonya, Trump menuduh pemerintah Iran telah membunuh puluhan ribu demonstran dalam beberapa bulan terakhir, meski angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Kelompok pemantau HAM berbasis di AS melaporkan lebih dari 7.000 kematian terverifikasi, dengan ribuan kasus lain masih ditinjau.
Di sisi lain, sebagaimana dilansir The New York Times, pemerintah Iran menyebut angka korban jauh lebih rendah.
Mendorong perubahan rezim
Trump secara terbuka menyerukan rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahnya. “Waktu kebebasan Anda telah tiba,” ujarnya, seraya menyatakan bahwa operasi militer akan terus berlanjut hingga tujuan tercapai.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa selain tujuan militer, serangan ini juga memiliki dimensi politik berupa dorongan perubahan rezim di Iran.
Diberitakan sebelumnya, kantor berita Iran Tasnim dan Fars telah mengonfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Tetapi, belum ada detail seputar kematiannya yang diumumkan.
Menyusul kematian Khamenei, Iran lantas mendeklarasikan 40 hari masa berkabung dan tujuh hari hari libur nasional. Terpisah, citra satelit dari Airbus Defence and Space memperlihatkan bangunan utama di kompleks tersebut dalam kondisi hancur total usai serangan Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu.
Beit-e Rahbari selama ini dikenal tidak hanya sebagai tempat tinggal sang pemimpin tertinggi, tetapi juga lokasi strategis untuk menjamu pejabat-pejabat senior Iran.
Namun dibalik semua alasan itu, tentu saja serangan Amerika ke Iran juga bertujuan agar Donald Trump bisa menjadikan negara itu berada di bawah kendalinya mengingat Iran adalah salah satu negara penghasil minyak terbesar di dunia.
Hal itu telah dibuktikan dengan bagaimanaa AS berhasil menjadikan Venezuela sebagai negara di bawah kuasanya, begitu juga dengan Iran dan Kuwait.
Yang pasti, tindakan Trump ini sama saja memperburuk perdamaian dunia. Jangan heran jika aksi teror untuk Amerika juga akan kambuh lagi. Sementara 'si antek asing' itu sekarang sedang bermimpi ingin jadi penengah konflik Iran dan Amerika. ***