-->

Kapal Malaysia aman Melewati Selat Hormuz, Kapal RI Dipersulit karena Prabowo Antek Trump

Sebarkan:

Saat ini tidak aman bagi kapal asing pengangkut minyak melewati Selat Hormuz. hanya kapal dari negara yang punya martabat yang bisa melintas, seperti kapal dari China, Rusia, Malaysia dan lainnya. Sementara kapal dari negara antek-antek Amerika, jalur ini tidak aman, termasuk untuk kapal tanker asal Indonesia. 
Dalam situasi perang yang terus berkecamuk, Iran membatasi kapal-kapal asing melewati Selat Hormuz, jalur lintas internasional yang berada dalam wilayah negara mereka. Hanya kapal dari negara sahabat yang aman melewati jalur itu, seperti China, Rusia, sejumlah negara Afrika dan Malaysia. Sedangkan kapal asal Indonesia dipersulit karena negara kanoha ini berada dalam kendali Presiden Donald Trump.

Di tingkat international, Indonesia tidak lagi dianggap negara non-blok, tapi sudah menjadi  bagian dari antek-antek Amerika. Makanya Iran sama sekali tidak menerima jika Presiden Indonesia Prabowo  mendeklarasikan diri sebagai penengah konflik. Itu cuma mimpi Prabowo untuk pencitraan di dalam negeri.

Lain halnya dengan Malaysia. Kapal pengangkut minyak asal negara jiran itu aman melintas karena pemerintahnya dianggap punya martabat. Oleh karena itu Kedutaan Besar Iran di Malaysia telah memastikan bahwa pelayaran kapal perdana milik Kuala Lumpur melalui Selat Hormuz telah berjalan lancar dan aman.

Situasi yang dialami kapal-kapal Malaysia itu menunjukkan betaap eratnya hubungan bilateral kedua negara di tengah dinamika geopolitik yang sempat memanas di jalur perairan internasional tersebut.

Melalui unggahan di platform X (sebelumnya Twitter) pada Senin (6/4/2026), pihak Kedutaan Besar Iran menegaskan eratnya hubungan bilateral antara kedua negara menjadi hal yang mendasari kesepakatan dengan Negeri Jiran tersebut.

"Kami telah mengatakan bahwa Republik Islam Iran tidak melupakan teman-temannya. Kapal Malaysia pertama telah melewati Selat Hormuz," tulis pihak kedutaan Iran dalam unggahan tersebut.

Melengkapi caption tersebut, Kedubes Iran untuk Malaysia menyertai unggahan tersebut dengan foto sebuah kapal milik Malaysia tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Kelancaran jalur logistik ini tidak lepas dari intervensi tingkat tinggi antara pemerintah Malaysia dan Iran.

Komunikasi Anwar Ibrahim dan Presiden Iran

Sebelumnya pada hari Minggu (5/4/2026), Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, mengungkapkan bahwa ia telah menggelar diskusi langsung dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Melalui diskusi tersebut, Malaysia akhirnya mendapatkan izin untuk melintas Selat Hormuz secara bebas tanpa halangan berarti.

Kebijakan ini pun menjadi angin segar bagi tujuh kapal Malaysia yang sebelumnya sempat terdampar di perairan tersebut.

"Saya memberi tahu Presiden Iran bahwa kapal-kapal kami masih terdampar di Selat Hormuz dan bahwa ini sangat penting untuk kebutuhan rakyat kami dan pasokan minyak nasional," ungkap Anwar seperti yang dikutip dari Bernama.

"Segera setelah panggilan telepon tersebut, ia menginstruksikan agar kapal-kapal Malaysia diberikan jalan," tambahnya saat berpidato dalam acara peluncuran Kolej Vokasional Pengerang di SMK Tanjung Pengelih, Pengerang, Johor.

Berdasarkan data pelacakan dari LSEG dan Kpler, salah satu kapal yang mendapat izin lintas adalah kapal tanker Ocean Thunder. Kapal yang memuat sekitar 1 juta barel minyak mentah Basrah Heavy dari Irak tersebut tercatat telah berlayar mendekati pantai Iran.

Kargo ini dimuat pada 2 Maret dan dijadwalkan akan bongkar muat di Pengerang, Malaysia, pada pertengahan April.

Berbeda dengan kapal Malaysia, nasib kapal Indonesia diujung tanduk.  Selat Hormuz dianggap tidak aman bagi kapal asal Indonesia.

Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, mengungkapkan kondisi penting mengenai situasi terkini di Selat Hormuz di tengah berkecamuknya sehingga tidak aman bagi jalur kapal internasonal.

Ia menyoroti bahwa jalur laut tersebut memiliki peran vital dalam arus distribusi energi global sehingga setiap perkembangan di wilayah itu berdampak luas.

Boroujerdi menegaskan bahwa hingga saat ini Selat Hormuz tidak ditutup, meskipun situasi keamanan sedang mengalami peningkatan kewaspadaan. Jalur perdagangan strategis tersebut tetap beroperasi, namun dengan penerapan protokol keamanan khusus.

Untuk sementara hanya kapal dari negara yang mereka anggap sahabat dekat yang bisa melintas.

Mohammad Boroujerdi menjelaskan bahwa kondisi tersebut bukan disebabkan oleh penutupan jalur, melainkan oleh faktor teknis dan keamanan yang memerlukan penyesuaian.

"Tentu Selat Hormuz tidak tertutup sekarang ini. Iran merupakan pihak yang mana sejak ratusan tahun yang lalu menjadi penyelenggara keamanan dan mengelola keamanan di selat tersebut," kata Boroujerdi.

Pernyataan tersebut menegaskan peran historis Iran dalam menjaga stabilitas kawasan perairan strategis tersebut. Boroujerdi juga menjelaskan bahwa ketidakamanan yang terjadi di wilayah itu merupakan dampak dari pihak luar yang melakukan invasi terhadap Iran. ***

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini